PERKEMBANGAN BAHASA ANAK

Posted by sheilas08 on 18 June 2010 in Academic |

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar persoalan bahasa tidak kasat mata. Kendati kita mengetahui secara abstrak bahwa kita mendengar suatu kalimat atau suara yang berubah-ubah, terasa seakan gagasan mengalir begitu saja kedalam pikiran kita. Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Selain itu bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Evolusi biologi menjadi salah satu landasan perkembangan bahasa. Mereka menyakini bahwa evolusi biologi membentuk manusia menjadi manusia linguistik. Noam Chomsky (1957) meyakini bahwa manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Ia menegaskan bahwa setiap anak mempunyai language acquisition device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Menurutnya, tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa (critical-period). Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami seumur hidup, karena bahasa adalah salah satu syarat dalam berkomunikasi. Komunikasi ini disusun sebagai simbolis proses transaksional. Komunikasi adalah proses transaksional dalam membuat dan berbagi pesan.
Menurut Chomsky, bayi dilahirkan dengan pengetahuan yang banyak mengenai bahasa. Mereka juga mempunyai prosedur-prosedur belajar yang kuat, yang memungkinkan mereka menambah pengetahuan itu dan mempelajari semua detil dan kekhususan bahasa komunitas mereka sendiri.
Bayi-bayi sebelumnya tidak mengetahui bahasa mana yang akan mereka hadapi. Secara potensial. Mereka harus mampu menguasai salah satu dari ribuan bahasa yang berbeda. Pada saat mereka berusia 4-5 tahun, anak telah menemukan secara tepat bahasa mana yang akan digunakannya.
Bahasa itu dipelajari, bukan bawaan. Adanya periode penting dalam mempelajari bahasa bisa dibuktikan salah satunya dari aksen orang dalam berbicara. Menurut teori ini jika orang berimigrasi setelah berusia 12 tahun kemungkinan akan berbicara bahasa Negara yang baru dengan aksen asing pada sisa hidupnya, tetapi kalau orang berimigrasi sebagai anak kecil, aksen akan hilang ketika bahasa baru akan dipelajari.

Proses Fisiologis Bicara
Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem neuromuskular untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut, serta rongga hidung.
Terdapat 2 proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan proses motoris. Aspek sensoris meliputi pendengaran, penglihatan, dan rasa raba yang berfungsi untuk memahami apa yang didengar, dilihat dan dirasa. Aspek motorik yaitu mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi, tindakan artikulasi dan laring yang bertanggung jawab untuk pengeluaran suara.
Di dalam otak terdapat 3 pusat yang mengatur mekanisme berbahasa, dua pusat bersifat reseptif yang mengurus penangkapan bahasa lisan dan tulisan serta satu pusat lainnya bersifat ekspresif yang mengurus pelaksanaan bahasa lisan dan tulisan. Ketiganya berada di hemisfer dominan dari otak atau sistem susunan saraf pusat.
Saat mendengar pembicaraan maka getaran udara yang ditimbulkan akan masuk melalui lubang telinga luar kemudian menimbulkan getaran pada membrane timpani. Dari sini rangsangan diteruskan oleh ketiga tulang kecil dalam telinga tengah ke telinga bagian dalam. Di telinga bagian dalam terdapat reseptor sensoris untuk pendengaran yang disebut Coclea. Saat gelombang suara mencapai coclea maka impuls ini diteruskan oleh saraf VII ke area pendengaran primer di otak untuk diteruskan ke area wernick. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan dalam bentuk artikulasi, diteruskan ke area motorik di otak yang mengontrol gerakan bicara. Selanjutnya proses bicara dihasilkan oleh getaran vibrasi dari pita suara yang dibantu oleh aliran udara dari paru-paru, sedangkan bunyi dibentuk oleh gerakan bibir, lidah dan palatum (langit-langit). Jadi untuk proses bicara diperlukan koordinasi sistem saraf motoris dan sensoris dimana organ pendengaran sangat penting.

Perkembangan bicara dan perkembangan bahasa

Bicara dan bahasa sering dicampur-adukkan, tapi sebenarnya ada perbedaan diantara keduanya. Bicara adalah ekspresi verbal dan meliputi artikulasi, bagaimana suatu kata dibentuk oleh otot-otot bicara. Sedangkan pengertian bahasa lebih luas, mengacu pada keseluruhan sistem yang mengekspresikan dan menerima informasi secara bermakna. Kendati masalah dalam perkembangan keduanya berbeda, mereka bisa saling tumpang tindih. Misalnya, anak dengan perkembangan bahasa bisa mengucapkan kata dengan baik tapi tidak bisa menggabungkan kata untuk membuat kalimat. Atau sebaliknya anak dapat menggunakan kata untuk mengekspresikan pemikirannya tapi artikulasinya kurang jelas.
Namun keterlambatan keduanya dapat sama-sama dideteksi dari awal dengan mengenali gejala-gejalanya sebagai berikut (dikutip dari Mary L. Gavin, MD, and Anne M.Meduri,MD):
• Bayi yang tidak berespon pada suara di sekitarnya
• Anak tidak menggunakan bahasa tubuh seperti menunjuk benda atau melambaikan tangan ‘bye-bye’ di usia 12 bulan.
• Anak lebih banyak menggunakan bahasa tubuh daripada bicara di usia 18 bulan.
• Anak tidak bisa meniru bunyi di usia 18 bulan.
• Anak hanya dapat meniru ucapan atau tindakan dan tidak menghasilkan kata secara spontan di usia lebih dari 2 tahun.
• Anak hanya mengulang bunyi atau kata tertentu dan tidak dapat menggunakan bahasa oral untuk berkomunikasi melebihi dari kebutuhannya sehari-hari, di usia lebih dari 2 tahun.
• Tidak mampu mengikuti instruksi sederhana di usia lebih dari 2 tahun.
• Tidak dimengerti bicaranya. Seharusnya di usia 2 tahun, orang lain dapat mengerti apa yang dikatakan anak paling tidak setengahnya.

Tags:

Copyright © 2010-2015 sheilas08's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.3, from BuyNowShop.com.